“Kakak Masih Punya Teman?”

Karena rejeki tidak melulu soal uang. Tapi punya teman-teman yang baik adalah rejeki yang tidak ternilai.

 

Saat berita mengenai make over kamar saya di The Project tersebar di internet, saya mendapat banyak teman baru di Twitter. Senang, pasti. Tapi yang paling saya syukuri adalah kebanyakan dari mereka selain memberi selamat, juga mendoakan untuk kesembuhan saya. Semakin banyak yang mendoakan, siapa tahu semakin cepat dikabulkan ‘kan? 🙂

 

Di antara banyak mention di Twitter yang masuk, ada satu yang menarik perhatian saya. Selain memberikan selamat, doa, dan semangat, dia juga bilang kalau kondisinya sama seperti saya. Penasaran, saya menghubunginya lewat direct message dan kami akhirnya bertukar cerita. Anak perempuan ini masih sangat muda. Usianya baru 15 tahun dan sudah mengalami kelumpuhan selama empat tahun. Sedihnya, dokter tidak tahu apa penyebab penyakitnya dan divonis tidak bisa disembuhkan. Di usia muda sudah harus menghadapi cobaan seberat itu, saya langsung merasa kalau episode hidup yang saya alami sepertinya lebih ringan.

 

Lalu ada satu pertanyaan dari dia yang membuat saya terdiam. ‘Dalam keadaan kayak gini, apa kakak masih punya teman? Aku sejak lulus SD ‘kan nggak sekolah lagi, jadi aku nggak punya teman lagi. Di rumah juga nggak ada teman’, tulisnya.

 

Seketika saya langsung terdiam. Sedih dengan keadaan teman baru saya ini. Lalu saya teringat dengan teman-teman yang tidak pernah meninggalkan saya, meski saya dalam keadaan terkapar lemah di ICU. Alhamdulillah, Allah memberikan saya teman-teman yang sangat baik. Rejeki tidak ternilai yang sangat saya syukuri.

 

Sejak saya dirawat di rumah sakit karena operasi pemasangan selang, sekitar setahun sebelum menderita TBC tulang, teman-teman saya rajin membesuk. Mulai dari teman kuliah, SMA, SMP, bahkan atasan saya saat itu juga menyempatkan diri membesuk. Waktu itu, saya dirawat di ruangan Kelas III yang berisi 7 pasien. Saking seringnya saya mendapat kunjungan, setiap ada orang yang datang ke kamar perawatan, pasien yang lain pasti langsung bertanya, “Cari Elga ya?”, padahal tidak semua yang datang mau membesuk saya. Bahkan pernah suatu waktu security di rumah sakit sampai harus mengusir secara halus teman-teman saya karena sudah melewati jam besuk. Padahal saya yang melarang mereka pulang karena masih senang bertemu dengan teman-teman lama.

 

Saat saya sakit lagi hampir setahun kemudian, hanya terbaring lemah karena mulai tidak bisa menggerakkan kaki, teman-teman masih menyempatkan waktu mereka untuk mengunjungi saya di rumah. Bahkan, teman-teman kuliah saya sampai mengumpulkan uang untuk membantu biaya pengobatan, yang jumlahnya membuat saya tercengang. Saat diberitahu oleh mama mengenai bantuan teman-teman saya itu, saya langsung menangis. Bersyukur karena ternyata saya masih memiliki orang-orang yang peduli dan sayang pada saya.

 

PS: Hey, #Jurnal05 dan teman-teman lain yang waktu itu ikut menyumbang, saya masih menyimpan amplop cokelat yang bertuliskan nama-nama kalian, loh. Mau saya tempel di dalam bingkai foto, tapi kata mama terlalu lebay. Jadi.. yah.. saya simpan saja di dalam lemari ya..

 

Lalu ketika saya mulai dirawat di rumah sakit, mulai dari di ruang perawatan sampai ke ICU, teman-teman saya masih terus mengunjungi saya. Selain mereka yang rutin datang membesuk sejak saya sakit di rumah, beberapa teman SMA dan SMP juga datang untuk menjenguk dan mendoakan kesembuhan saya. Saat saya dirawat di ICU beberapa atasan saat saya dulu bekerja di majalah Aneka Yess! juga datang. Padahal kami sudah lama sekali tidak bertemu, tapi melihat mereka masih mau meluangkan waktu untuk membesuk, saya merasa sangat terharu.

 

Jika dipikir-pikir lagi, salah satu alasan saya tetap memiliki semangat untuk hidup dan melawan penyakit saya, meskipun saat itu sepertinya sudah tidak ada harapan hidup lagi, adalah mereka yang mengunjungi saya di rumah sakit. Melihat wajah mereka, meski saat itu hanya dari jarak jauh dan lewat kaca, saya memiliki keinginan untuk bertemu dengan mereka lagi. Saya masih ingin bertemu dan berkumpul dengan keluarga, teman-teman, dan orang-orang yang menyayangi saya.

 

Sampai sekarang saya sudah jauh lebih sehat, kontribusi teman-teman saya tidak berkurang. Tempat tidur rumah sakit yang saya gunakan saat ini adalah pinjaman tanpa biaya dan batas waktu dari teman kuliah saya.

 

PS: Dimas Iriawan, saya selalu doakan kamu sekeluarga selalu sehat ya. Semoga Allah membalas kebaikan kamu sekeluarga. Aamiin. Dan Dyah, terima kasih waktu itu sudah cerita ke teman-teman lain kalau saya butuh tempat tidur ini tanpa biaya sewa ya.. You’re the best! 🙂

 

Beberapa teman juga masih ada yang suka datang ke rumah untuk berkunjung dan bertukar cerita. Senang mendengar cerita tentang teman-teman yang lain lewat mereka yang datang karena kehidupan saya saat ini yang masih berpusat di sekitar kamar dan rumah saja. Kedatangan teman jadi suatu obat penyemangat sendiri untuk saya.

 

Jadi, jika ada yang bertanya lagi pada saya, ‘Dengan keadaan seperti ini, kamu masih punya teman?’, saya akan menjawab dengan penuh rasa syukur, ‘Iya, saya masih punya banyak teman yang peduli pada saya’.