Allah Maha Baik. The Project Juga Sangat Baik

Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

Di keadaan saya yang seperti ini, hal yang saya inginkan dan selalu saya doakan adalah ingin sembuh seperti dulu. Ingin bisa menggerakkan kaki lagi, berdiri lagi, dan berjalan dengan kaki sendiri lagi. Saya selalu mendoakan hal ini meski kadang ada saat-saat dimana saya merasa lelah berdoa dan hanya pasrah dengan kehendak Allah. Sampai saya tiba di titik saya-akan-tetap-berdoa-tapi-saya-yakin-kehendak-Allah-adalah-yang-terbaik-untuk-saya. Saya yakin Allah lebih tahu apa yang dibutuhkan dan terbaik untuk umatnya, termasuk saya.

Ternyata, (mungkin) menurut Allah saat ini yang terbaik adalah bukan yang saya inginkan, yaitu kesembuhan, tapi sesuatu yang saya butuhkan, yaitu suasana kamar yang baru. Dengan cara apa? Make over kamar! Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, sejak sakit, kamar adalah dunia kecil saya. Sudah hampir dua tahun ini, semua waktu yang saya habiskan ada di dalam kamar. Jadi, (lagi-lagi mungkin) menurut Allah: “Oke, Elga. Sekarang yang kamu butuhkan adalah suasana kamar yang baru!”

Semua berawal dari kakak saya yang mengirimkan email ke tim The Project, Trans TV, dan meminta bantuan mereka untuk me-make over kamar saya. Uni, panggilan sayang saya ke kakak, menceritakan kondisi saya dan juga menyertakan tulisan yang saya tulis untuk blog ini ke tim The Project. Cerita Uni, respon yang diberikan cukup lama, beberapa bulan kalau tidak salah. Cukup lama sampai Uni hampir melupakan pernah mengirim email ke The Project. Tapi akhir 2016, tim The Project akhirnya menghubungi Uni dan menanyakan mengenai kondisi terakhir saya. Awal 2017, salah seorang tim The Project melakukan survey ke rumah untuk melihat keadaan saya sekaligus kamar saya. Setelah itu, prosesnya sangat cepat. Kira-kira seminggu kemudian, Uni dihubungi kalau tim setuju untuk me-make over kamar saya dan akan dilakukan secepatnya. Beberapa hari kemudian, beberapa orang dari tim The Project datang untuk mengambil gambar kondisi kamar sebelum di-make over. Dan beberapa hari setelah itu, tukang datang ke rumah untuk mulai melakukan beberapa perubahan di kamar saya.

Selama make over dilakukan, saya ‘diungsikan’ ke kamar keponakan. Saya meminta kepada keluarga untuk tidak menceritakan perubahan apa saja yang dilakukan di kamar saya. Saat tim The Project datang membawa beberapa furniture baru untuk ditaruh di kamar baru saya nanti, saya juga meminta mereka untuk tidak memberitahukan barang apa saja yang diberikan. Keponakan saya yang duduk di kelas 1 SMP, sudah ‘gatal’ ingin menceritakan perubahan apa saja yang terjadi di kamar saya. Juga barang-barang apa yang saya dapatkan dari The Project. Tapi saya hanya menutup telinga karena ingin kamar baru saya nanti benar-benar menjadi sebuah surprise untuk saya.

Saat hari pengambilan gambar tiba, saya deg-degan. Exited karena ingin melihat kamar baru saya tapi juga takut dan malu harus on-cam di depan kamera. Meski dulunya saya seorang jurnalis, tapi saya belum pernah menjadi jurnalis televisi dan tidak pernah tampil di depan kamera. Saya lebih senang ada di balik layar. Berdua dengan Uni yang juga harus tampil di depan kamera untuk memberikan testimoni, kami saling memberi semangat agar tidak gugup saat melakukan rekaman.

“Perasaan waktu mau operasi nggak deg-degan banget kayak gini deh,” ucap saya.

“Uni juga kalau mau ketemu bos nggak jantungan begini,” balas Uni.

Kalau diingat-ingat sekarang, rasanya konyol juga harus merasa segugup itu karena ternyata proses pengambilan gambarnya hanya sebentar dan menyenangkan. Persiapan untuk melakukan syuting yang justru memakan waktu cukup lama karena Anies Walsh, host The Project yang juga seorang desainer interior, harus mendekorasi kamar saya terlebih dahulu agar terlihat bagus dan bisa sesuai dengan apa yang saya bayangkan. Mbak Anies, saya memanggilnya, juga melakukan beberapa pengambilan gambar terlebih dahulu untuk memerlihatkan proses make over kamar saya. Saya sendiri hanya melakukan syuting selama sekitar satu jam. Itu pun tidak terasa lama karena Mbak Anies dan para kru bersikap sangat menyenangkan.

Berbicara tentang Mbak Anies, saya merasa sangat beruntung bisa mengenal perempuan hebat ini. Mbak Anies yang lulus dari FSRD ITB ternyata sangat baik dan bersahabat. Sebelum mulai syuting, saya bersama Uni mengobrol banyak dengannya. Saya berbagi cerita mengenai penyakit dan perjuangan yang harus saya lalui selama sakit dan Mbak Anies dengan baik hati memberikan saya kata-kata penyemangat dan penghibur.

“Kamu harus tetap semangat menjalani hidup. Pasti ada hikmah yang Allah berikan di balik ini. Jangan patah semangat. Kerjakan apa yang masih bisa kamu kerjakan. Jangan berhenti berkarya. Semangat terus ya..,” kata Mbak Anies.

Saat syuting dimulai dan saya melihat kamar saya setelah di-make over untuk pertama kalinya, saya tidak bisa menahan rasa haru. Air mata langsung mengalir keluar tanpa bisa dibendung. Kata pertama yang terlintas di dalam kepala saat melihat kamar baru saya adalah cantik. Kamar baru saya cantik sekali. Bernuansa soft pink-putih yang dihiasi oleh gorden dan bed caover dengan warna senada, membuat kamar saya terlihat cantik sekali. Sangat berbeda dengan kamar saya sebelumnya.

Tangisan saya makin keras ketika melihat ke salah satu dinding di kamar saya yang ditutupi oleh digital printing bergambar BTS, boygroup asal Korea Selatan favorit saya. Saya sama sekali tidak menyangka tim The Project akan memberikan saya kejutan seperti ini. Sebelumnya saya memang bilang menyukai BTS, tapi saya tidak pernah menduga tim The Project mau bersusah payah mencari foto-foto BTS, menyatukannya, dan mencetaknya dengan format digital printing dengan ukuran super besar. Saya terharu bercampur senang saat melihatnya.

Bukan hanya kamar cantik yang diberikan oleh tim The Project untuk saya. Sebuah lemari tiga pintu, dua buah sofa, satu meja bundar kecil, cermin dinding yang tidak kalah cantik dengan kamar saya, tiga jenis lampu yang berbeda, karpet bundar kecil, dan yang paling membuat saya bersyukur adalah saya diberikan televisi LED 32” yang baru. Sebelumnya saya memang punya televisi di kamar, tapi seperti sudah direncanakan oleh Allah, saat kamar saya akan di-make over televisi saya tersebut rusak dan tidak dapat digunakan lagi. Padahal benda elektronik satu itu sangat penting untuk menemani keseharian saya di dalam kamar. Mendapatkan televisi baru membuat saya tidak habis bersyukur dengan rejeki yang saya dapatkan ini.

Ah, saya hampir lupa! Barang terakhir tapi tidak kalah penting yang diberikan oleh tim The Project adalah kursi roda. ‘Kendaraan’ ini sangat berguna untuk saya saat akan bermobilisasi keluar kamar. Tidak jauh-jauh sih, paling hanya ke depan rumah atau ke rumah saudara saya yang ada di gang sebelah. Hahaha… Tapi bagaimanapun, kursi roda adalah barang penting untuk saya dan tim The Project membelikan kursi roda yang nyaman digunakan dan mudah dikendalikan baik oleh orang yang mendorong saya atau saya sendiri.

Allah Maha Baik. Tim The Project dan Mbak Anies juga sangat baik. Semua hal yang saya dapatkan ini bukan keinginan saya. Sejak sembuh dan bisa pulang ke rumah dari rumah sakit dua tahun lalu, saya tidak pernah punya keinginan yang muluk-muluk. Apalagi ingin mengganti suasana kamar dan membeli berbagai perabotan baru untuk kamar saya. Tapi menurut Allah, mungkin inilah yang saya butuhkan sekarang. Semua rejeki yang saya dapatkan dari The Project adalah yang saya butuhkan untuk menambah semangat saya menjalani kehidupan baru saya. Semua barang ini saya butuhkan agar saya menjadi orang yang lebih bersyukur pada Allah. Agar saya tidak pernah melupakan-Nya lagi. Agar saya lebih bersabar lagi. Bersabar hingga suatu saat mungkin Allah akan menjadikan apa yang saya inginkan menjadi yang saya butuhkan dan mengabulkan segala doa saya. Aamiin YRA.

img-20170119-wa0034

Oh iya. Kalau belum nonton acaranya, berikut saya berikan link videonya di YouTube. Selamat menonton!

Advertisements

What If You Had A Different Life?

Bukan sebagai orang yang berbeda. Tapi sebagai dirimu sendiri dan dengan kehidupan yang berbeda. Itu yang saya alami sekarang.

*

Dulu, saya adalah seorang pekerja. Seorang wartawan, mungkin bisa dibilang seperti itu. Pergi dan pulang bekerja menggunakan motor matic kesayangan, kendaraan paling praktis untuk menembus macetnya jalanan Jakarta. Saya menyukai kehidupan saya saat itu. Menyukai pekerjaan saya sebagai wartawan ‘senang-senang’ karena saya bekerja sambil bersenang-senang dan biasanya tempat saya meliput adalah tempat-tempat yang menyenangkan. Memiliki cerita dan pengalaman baru setiap hari. Punya penghasilan tetap yang meskipun tidak terlalu besar tapi cukup untuk sedikit foya-foya. Tapi yang paling saya sukai dari kehidupan saya dulu adalah saya bisa bebas pergi ke mana saja.

Kebebasan saya ‘hilang’ pada Maret 2014. Sebenarnya saat itu tubuh saya sudah memberi tanda-tanda kalau ada sesuatu yang tidak beres. Tapi saya tidak menghiraukannya. Terlalu bodoh? Takut? Atau kombinasi dari keduanya? Entahlah.

Akhir Maret, saya kehilangan kekuatan di kedua kaki. Awalnya saya masih bisa menggerakkannya meski tidak bisa berdiri tanpa bantuan orang lain, tapi lama-kelamaan kaki saya tidak bisa bergerak lagi. Harusnya saya saat itu ke dokter atau rumah sakit. Tapi sekali lagi. Saya terlalu takut dan bodoh untuk melakukannya. Satu tahun sebelumnya, saya pernah melakukan operasi yang cukup besar akibat penumpukan cairan di kepala. Itu membuat saya trauma dengan rumah sakit dan sebisa mungkin menghindarinya. Saya berharap, pengobatan tradisional bisa menyembuhkan kaki saya saat itu. Tapi ternyata saya salah besar.

Butuh waktu sembilan bulan sampai akhirnya saya setuju untuk dibawa ke rumah sakit. Itupun karena saya sudah kesulitan bernapas dan harus menggunakan oksigen terus-menerus. Ternyata, cairan sudah memenuhi paru-paru, sampai memengaruhi kerja jantung, sehingga membuat pernapasan terganggu. Di situlah perjuangan sebenarnya dimulai. Seakan belum cukup melawan rasa sakit selama sembilan bulan sebelumnya, perawatan selama tiga bulan di rumah sakit benar-benar menjadi ujian berat bagi saya.

Didiagnosa terkena TBC tulang di tulang punggung bagian atas, saya harus menjalani operasi pemasangan pen karena tulang yang terkena bakteri TBC sudah hancur. Hancur dan harus diganti menggunakan pen, yang akan terpasang seumur hidup. Tapi tidak semudah yang direncanakan, operasi harus tertunda karena tubuh saya yang sudah melemah akibat terlalu lama berbaring sehingga hampir semua kondisi organ tubuh saya memburuk.

Paru-paru adalah kondisi paling parah saat itu sehingga membuat saya kesulitan bernapas dan sering mengalami serangan sesak napas parah. Jika serangan terjadi, yang bisa saya lakukan hanya berusaha untuk terus bernapas, meski rasanya tidak ada udara yang bisa saya ambil di setiap tarikan napas, dan berdoa. Terus berdoa di dalam hati agar saya tidak kehabisan tenaga untuk memerjuangkan hidup saya. Berdoa agar Tuhan mau memberikan kesempatan pada saya untuk terus hidup. Dan berdoa agar serangan sesak napas itu bisa berakhir.

Selama tiga bulan dirawat di rumah sakit, banyak hal yang saya alami. Selain dari serangan sesak napas yang sering terjadi, tentunya. Dua kali pindah rumah sakit, tiga kali masuk ruang ICU, dua kali di HCU, menjalani delapan jam operasi pemasangan pen, jarum infus selalu terpasang di kedua tangan, merasakan sakitnya saat dipasang selang makan melalui lubang hidung, sampai yang membuat saya merasa tidak punya harapan hidup lagi adalah saat dipasangi alat bantu napas atau ventilator.

Selama sekitar tiga minggu selang ventilator terpasang melalui mulut hingga ke paru-paru, saya tidak bisa bicara atau bahkan mengeluarkan suara. Indera penciuman juga terhalang sehingga saya tidak bisa mencium bau apapun.  Jika bergerak, jangan ditanya rasanya seperti apa. Sakit sekali. Ada selang yang ukurannya tidak kecil terpasang di tenggorokan, bukan perasaan yang nyaman. Saya berdoa semoga kalian tidak pernah merasakannya.

Sekarang, sudah hampir dua tahun saya pulang ke rumah. Kondisi saya sudah jauh lebih sehat, bakteri TBC sudah sembuh total, dan sudah tidak pernah merasa kesakitan lagi. Tapi saya masih belum bisa menggerakkan kedua kaki saya. Selama hampir tiga tahun, hidup saya saat ini terpusat di tempat tidur. Dunia saya hanya seluas kamar tidur yang saya tempati. Televisi dan handphone adalah jendela tempat saya tetap bisa melihat kehidupan di dunia luar. Tapi untuk saat ini saya harus puas hanya dengan ‘dunia kecil’ yang saya miliki.

Saya memiliki kehidupan yang berbeda sekarang. Dulu saya bisa bebas ke mana saja, sekarang saya tidak pernah ke luar dari rumah. Dulu saya bisa melakukan apa saja sendiri, sekarang hampir semua yang saya lakukan harus dibantu oleh orang lain. Dulu saya punya pekerjaan tetap, sekarang saya hanya mengandalkan pekerjaan freelance agar tetap merasa produktif. Dan saya yang dulu juga berbeda dengan saya sekarang.

 

Jadi, bagaimana jika kamu punya kehidupan yang berbeda? Saya sudah merasakannya. Meski bukan kehidupan yang saya impikan, tapi saya tetap merasa bersyukur karena saya masih diberi kesempatan untuk tetap menjalani sebuah kehidupan.

 

photogrid_1471352187168